Apakah Pembangunan IKN Akan Menggadaikan Kedaulatan?

Teras Media

- Penulis

Sabtu, 19 Agustus 2023 - 13:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Progres Jalan Tol IKN Nusantara/Kementerian PUPR

i

Progres Jalan Tol IKN Nusantara/Kementerian PUPR

Ikuti kami di Google News

Terasmedia.co, | Perayaan 17 Agustus di Istana Negara tahun ini hampir pasti bakal jadi seremoni hari kemerdekaan terakhir Presiden Jokowi di Jakarta. Sebab, di perayaan yang sama tahun depan, sekaligus jelang akhir masa kepemimpinannya yang kedua, ditargetkan untuk dihelat di ibukota pengganti Jakarta, Ibu Kota Nusantara (IKN).

Untuk itu, pembangunan di ibu kota baru tersebut terus digeber dari fisik sampai nonfisik. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, misalnya, tengah mempercepat pembangunan jalan tol dari Balikpapan ke kawasan inti pemerintahan IKN.

Di lain sisi, pemerintah juga terus berusaha merayu pihak swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan IKN di Kaltim. Berbagai insentif disiapkan, termasuk keringanan pajak. Saking digeber untuk IKN, ada kerjasama terbaru dengan Tiongkok yang membuat posisi Indonesia terjepit dalam kepentingan geopolitik Tiongkok.

Kata pengamat kebijakan publik Muslim Arbi, “Ada tiga hal kenapa kedaulatan NKRI terancam atas barter yang diberikan oleh pemerintah atas kerja sama itu.” jelas Arbi.

Tiongkok diberi konsesi mengelola IKN selama 160 Tahun. Kedua, Tiongkok mendapat HGU selama 190 tahun sesuai dengan Keppres yang diteken Presiden Jokowi. Dan terakhir, Tiongkok masih mengklaim Utara Natuna sebagai laut China Selatan. Meski kalah di Pengadilan Internasional di Den Haag soal UNCLOS.

Dengan tiga alasan utama itu, Arbi mendesak Jokowi harus membatalkan Keppres soal kerjasama dengan Tiongkok itu.

Sementara, Badan Otorita IKN mengklaim minat swasta untuk berinvestasi lebih besar dari lahan yang tersedia. Proyek bernilai Rp466 triliun itu juga bakal jalan terus, meski perekonomian dunia diprediksi akan menghadapi resesi.

Pembangunan IKN tahap pertama sudah dimulai dengan menggunakan dana dari APBN, dan akan berlangsung hingga 2024. Pemerintah mengklaim IKN akan mendorong pembangunan dan menggerakkan ekonomi di Indonesia timur.

Namun, sejumlah pengamat ekonomi masih skeptis pembangunan IKN akan memberikan dampak yang signifikan pada ekonomi nasional. Megaproyek IKN juga dikhawatirkan bakal menambah beban keuangan negara. Pemerintah dinilai berspekulasi dengan memulai pembangunan menggunakan APBN karena belum tentu kedepannya swasta akan tertarik.

Apalagi, IMF telah memprediksi perlambatan ekonomi global akibat perang di Ukraina serta naiknya harga-harga kebutuhan dasar, yang mendorong para investor untuk berinvestasi di aset-aset yang aman.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Politik Dua Kaki PDIP Bikin PKB Gelisah, Pengamat: Gerus Posisi Tawar Koalisi
DPW PKB Banten Susun Kepengurusan DPC 2026-2031, Tekankan Keterwakilan Daerah
Dua DPC PPP Tuntaskan Muscab, DPW Papua Barat Daya Siap Perkuat Struktur Partai
Dari Pengabdian Menuju Kemenangan, PKB Lebak Siap Bergerak Lebih Solid dan Dekat dengan Rakyat
Adde Rosi Sebut Keterwakilan Perempuan di DPR Tak Cukup Angka, Perlu Posisi Strategis
Golkar: E-Voting Perlu Kajian Mendalam, Infrastruktur dan Regulasi Matang
SOKSI Hidupkan Kembali Program P2KB untuk Perkuat Kaderisasi Jelang Pemilu 2029
Izin Dicabut tapi Tetap Beroperasi, Kejagung Bongkar Rekayasa Dokumen Ekspor PT AKT
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:15 WIB

Politik Dua Kaki PDIP Bikin PKB Gelisah, Pengamat: Gerus Posisi Tawar Koalisi

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:57 WIB

DPW PKB Banten Susun Kepengurusan DPC 2026-2031, Tekankan Keterwakilan Daerah

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:12 WIB

Dua DPC PPP Tuntaskan Muscab, DPW Papua Barat Daya Siap Perkuat Struktur Partai

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:26 WIB

Dari Pengabdian Menuju Kemenangan, PKB Lebak Siap Bergerak Lebih Solid dan Dekat dengan Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:33 WIB

Adde Rosi Sebut Keterwakilan Perempuan di DPR Tak Cukup Angka, Perlu Posisi Strategis

Berita Terbaru