Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Saat Hadapi Bencana

Avatar photo

- Penulis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

SEMARANG – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan harus melampaui sekat organisasi, politik, maupun agama. Di tengah meningkatnya potensi bencana alam, seluruh elemen masyarakat dinilai perlu bersinergi dengan menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prioritas utama.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghoffar Rozin atau Gus Rozin, saat memimpin Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (25/7/2026).

“Dalam konteks kemanusiaan, kerja sama antar-elemen masyarakat tanpa memandang kelompok, ideologi, maupun agama harus kita kedepankan. Kemanusiaan adalah fondasi utama,” ujar Gus Rozin.

Konsolidasi Relawan dari 27 PCNU

Apel kesiapsiagaan menjadi ajang konsolidasi relawan NU terbesar di Jawa Tengah. Sebanyak 418 peserta mengikuti kegiatan tersebut, dengan 270 orang merupakan peserta aktif Jambore Relawan NU Peduli.

Peserta berasal dari 27 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas relawan, serta membangun sistem respons bencana yang lebih terintegrasi.

Kesiapsiagaan Harus Menjadi Budaya

Gus Rozin mengingatkan bahwa Jawa Tengah hampir setiap tahun menghadapi berbagai bencana, mulai dari kekeringan saat musim kemarau hingga banjir dan tanah longsor pada musim penghujan.

Wilayah seperti Klaten kerap mengalami krisis air bersih ketika kemarau, sementara Demak, Grobogan, Pekalongan, Brebes, Tegal, hingga Purbalingga menjadi daerah yang rutin terdampak banjir dan longsor saat musim hujan.

Karena itu, menurutnya, kesiapsiagaan tidak boleh bersifat musiman.

“Respons cepat itu menentukan segala-galanya. Dan kecepatan itu tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara terus-menerus,” tegasnya.

Pascabencana Harus Menyentuh Pemulihan Mental

PWNU Jawa Tengah juga menekankan pentingnya penanganan pascabencana secara menyeluruh. Menurut Gus Rozin, tugas relawan tidak berhenti ketika bencana usai, tetapi juga mencakup pemulihan psikologis para penyintas.

Melalui program trauma healing, NU Peduli akan menggandeng akademisi, Fakultas Psikologi, Fatayat NU, serta berbagai komunitas kemanusiaan untuk mendampingi para korban.

“Fokus kita adalah menjaga keselamatan dan martabat manusia (hifzhun nafs). Bukan hanya membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga memulihkan kehormatan dan kesehatan mental para korban,” katanya.

Perkuat Teknologi dan Kolaborasi

Selain apel kesiapsiagaan, kegiatan ini juga diisi sejumlah langkah konkret untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana, di antaranya peluncuran aplikasi NU Risk sebagai platform pendataan relawan dan pelaporan bencana secara real time.

BPBD Jawa Tengah turut menyerahkan bantuan berupa tenda komando dan perlengkapan dapur umum, sementara LAZISNU Jawa Tengah menyalurkan bantuan air bersih secara simbolis bagi daerah terdampak kekeringan. Kegiatan juga ditandai dengan penanaman pohon sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi risiko bencana.

Apel kesiapsiagaan dihadiri unsur Forkopimda, Wakil Ketua LPBI PBNU Sobirin, Ketua NU Peduli Jawa Tengah KH Mandzur Labib, serta pimpinan lembaga NU lainnya.

Ratusan relawan yang hadir berasal dari berbagai badan otonom NU, seperti LPBI NU, LAZISNU, Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, hingga Pagar Nusa. Mereka bersama BPBD dan Palang Merah Indonesia (PMI) memperkuat sinergi lintas sektor guna membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih cepat, terkoordinasi, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ribuan Umat Buddha Lintas Negara Semarakkan Pembacaan Tipitaka di Borobudur
NU Peduli: Saat Bencana, Kemanusiaan Harus Mengalahkan Sekat Agama dan Politik
Direktur P3S Minta Polisi Tangkap Akun Auguss Assa yang Diduga Cemarkan Nama Baik Kapolda Sulut
Infast Bestari: Kritik Neoliberalisme Presiden Harus Berlanjut ke Perlindungan Sosial Universal
Perkuat Daya Saing Pariwisata, Universitas Sahid Gelar Seminar Internasional
Melanjutkan Jejak Gus Dur, Gus Rozin Membuka Jalur Diplomasi Pendidikan dengan Tiongkok
Melanjutkan Jejak Gus Dur, Gus Rozin Membuka Jalur Diplomasi Pendidikan dengan Tiongkok
Kidung Tirto Ucapkan Selamat HBA ke-66, Dorong Kejaksaan Perkuat Penegakan Hukum Berkeadilan
Berita ini 6 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:21 WIB

Ribuan Umat Buddha Lintas Negara Semarakkan Pembacaan Tipitaka di Borobudur

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:43 WIB

NU Peduli: Saat Bencana, Kemanusiaan Harus Mengalahkan Sekat Agama dan Politik

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:35 WIB

Bukan Soal Bendera atau Agama, NU Peduli Tegaskan Kemanusiaan Tanpa Sekat Saat Hadapi Bencana

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:18 WIB

Direktur P3S Minta Polisi Tangkap Akun Auguss Assa yang Diduga Cemarkan Nama Baik Kapolda Sulut

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:23 WIB

Infast Bestari: Kritik Neoliberalisme Presiden Harus Berlanjut ke Perlindungan Sosial Universal

Berita Terbaru