Kuasa Hukum Gabriel Ungkap Dugaan Rekayasa Administrasi dalam Sidang Praperadilan Kasus Gas Portable

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 31 Juli 2026 - 12:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ikuti kami di Google News

Terasnedia.co Jakarta – Tim kuasa hukum Gabriel Lumbantoruan alias Gabriel Sihombing dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Peradi Profesional menyerahkan dokumen kesimpulan pemohon dalam perkara praperadilan Nomor 13/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Utr di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (31/7).

Permohonan praperadilan tersebut diajukan terhadap Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok cq Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pelabuhan Tanjung Priok atas dugaan tindakan sewenang-wenang dalam penetapan tersangka, penangkapan, dan penahanan terhadap Gabriel.

Putusan perkara dijadwalkan dibacakan pada Senin, 3 Agustus 2026.

Kuasa hukum Gabriel, Marulitua Rajagukguk dan Irman Bunawolo, menyatakan kesimpulan yang disampaikan kepada majelis hakim disusun berdasarkan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan.

Menurut Marulitua, pihak termohon diduga melakukan sejumlah pelanggaran hukum acara pidana yang dinilai mendasar berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Pertama, termohon disebut menggunakan teknik investigasi penyamaran dan pembelian terselubung (undercover buy) sebagaimana tercantum dalam Bukti T-4. Menurut kuasa hukum, berdasarkan Pasal 16 ayat (1) KUHAP beserta penjelasannya, teknik tersebut tidak dapat diterapkan dalam perkara tindak pidana minyak dan gas bumi, melainkan hanya untuk perkara narkotika, psikotropika, atau tindak pidana lain yang secara khusus diatur dalam undang-undang.

Kedua, surat penetapan tersangka dinilai tidak memenuhi ketentuan Pasal 90 ayat (3) huruf c KUHAP karena tidak mencantumkan hak-hak tersangka. Menurut pemohon, kekurangan tersebut diakui sendiri oleh termohon dalam jawabannya di persidangan.

Ketiga, kuasa hukum menduga kepolisian menyusun sedikitnya 13 dokumen administrasi penyelidikan dan penyidikan pada 31 Mei 2026 serta 12 dokumen lainnya pada 1 Juni 2026, setelah penangkapan terhadap Gabriel dilakukan. Menurut mereka, pola tersebut mengindikasikan adanya rekayasa administrasi setelah peristiwa (post-factum administration) untuk melegitimasi tindakan paksa yang telah dilakukan.

Keempat, dalam persidangan, termohon mengajukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saksi (Bukti T-17) serta BAP tersangka (Bukti T-19 dan T-46) yang bertanggal 1 Mei 2026. Pemohon menilai tanggal tersebut tidak sesuai dengan kronologi karena laporan polisi dan penyidikan baru dimulai pada 31 Mei 2026.

Kelima, dokumen perpanjangan penahanan dari Kejaksaan Negeri Jakarta Utara (Bukti T-54) tercantum bertanggal 12 Juni 2025. Menurut kuasa hukum, dokumen tersebut tidak dapat dijadikan dasar hukum karena seluruh rangkaian peristiwa pidana baru terjadi pada tahun 2026.

Keenam, berita acara penggeledahan rumah (Bukti T-31) dinilai cacat prosedur karena tidak disaksikan oleh pengurus RT/RW maupun warga setempat, melainkan hanya oleh anggota kepolisian.

Berdasarkan temuan tersebut, tim kuasa hukum yang terdiri atas Dr. (c) Bahrain, S.H., M.H., Marulitua Rajagukguk, S.H., Hincat Silalahi, S.H., dan Irman Bunawolo, S.H., berpendapat seluruh alat bukti yang diajukan termohon merupakan unlawfully obtained evidence atau alat bukti yang diperoleh secara melawan hukum. Mereka menyatakan, sesuai asas exclusionary rule dalam KUHAP, seluruh alat bukti beserta tindakan turunannya seharusnya dinyatakan tidak sah.

Melalui permohonan praperadilan tersebut, tim kuasa hukum meminta hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Utara mengabulkan seluruh permohonan pemohon, menyatakan penetapan tersangka terhadap Gabriel tidak sah, menghentikan penyidikan, serta memerintahkan pembebasan Gabriel dari tahanan.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Mulyani, Budi Arie, Dito, Gelombang Penyingkiran Orang Jokowi di Kabinet
H. Moch Soleh Silaturahmi ke Kediaman Joko Widodo di Surakarta, Ajak Masyarakat Bersatu Dukung Pemerintah
Aktivis Buruh Desak RT/RW Kampung Batur Jaya Dicopot, Carlianto Soroti Keberpihakan kepada Pengusahan
Marwan Jafar: Pemegang Polis Asuransi Harus Terjamin dan Terlindungi
Tarian Bogor Istimewa Tampil di Istana Negara Dalam Acara Kawal Istana
Tiang Telepon di Batur Jaya Dipertanyakan, Rohim Desak APH Investigasi Program dan Perizinannya
Didampingi Camel Petir, Anggota DPR RI Tommy Kurniawan Ikut Berbagi Bersama Tim PJBW di Raden Saleh Jakarta Pusat
DPD GMPK DKI Bagikan 10.000 Masker dan 700 Nasi Kotak
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 12:03 WIB

Mulyani, Budi Arie, Dito, Gelombang Penyingkiran Orang Jokowi di Kabinet

Senin, 14 September 2026 - 22:30 WIB

H. Moch Soleh Silaturahmi ke Kediaman Joko Widodo di Surakarta, Ajak Masyarakat Bersatu Dukung Pemerintah

Senin, 14 September 2026 - 10:16 WIB

Marwan Jafar: Pemegang Polis Asuransi Harus Terjamin dan Terlindungi

Minggu, 13 September 2026 - 22:25 WIB

Tarian Bogor Istimewa Tampil di Istana Negara Dalam Acara Kawal Istana

Sabtu, 12 September 2026 - 15:19 WIB

Tiang Telepon di Batur Jaya Dipertanyakan, Rohim Desak APH Investigasi Program dan Perizinannya

Berita Terbaru