Perang Iran dan Ilusi Kemenangan di Era Global

Avatar photo

- Penulis

Selasa, 7 April 2026 - 19:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abdurrasyd Ramadisa An Nafi

i

Abdurrasyd Ramadisa An Nafi

Ikuti kami di Google News

Oleh: Abdurrasyid Ramadisa An Nafi’

Terasmedia.co Jakarta – Apakah masih masuk akal membicarakan “kemenangan” dalam perang modern? Ketika konflik Iran kembali memanas, perhatian dunia langsung tertuju pada kekuatan militer: siapa menyerang lebih dulu dan siapa yang lebih unggul. Namun pertanyaan yang lebih penting justru jarang diajukan: apakah ada pihak yang benar-benar menang

Konflik Iran bukan sekadar pertarungan militer. Ia adalah bagian dari ketegangan panjang di Timur Tengah yang melibatkan aktor besar seperti Amerika Serikat dan Israel.
Eskalasi terbaru menunjukkan perubahan pola, di mana serangan mulai menyasar infrastruktur strategis, khususnya sektor energi. Dampaknya tidak lagi lokal, tetapi global.

Kenaikan harga minyak menjadi bukti paling nyata. Negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia, ikut menanggung beban melalui tekanan ekonomi dan naiknya harga kebutuhan pokok. Dalam situasi ini, perang tidak lagi terbatas pada medan tempur, tetapi merembet ke kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.

Di dalam negeri, konflik eksternal kerap dimanfaatkan untuk memperkuat legitimasi politik. Ancaman dari luar bisa menciptakan solidaritas nasional. Namun efek ini biasanya hanya bertahan sementara. Dalam jangka panjang, tekanan ekonomi justru berpotensi melemahkan stabilitas domestik.

Dari sisi militer, keunggulan teknologi tidak lagi menjamin kemenangan. Pola konflik yang semakin kompleks, termasuk penggunaan jaringan sekutu dan strategi tidak langsung, membuat perang sulit diselesaikan secara konvensional. Di saat yang sama, perang juga berlangsung di ruang informasi, di mana narasi menjadi senjata yang tak kalah penting.

Kondisi ini menunjukkan satu hal: perang modern tidak menghasilkan kemenangan yang jelas. Sebaliknya, ia memperluas kerugian ke berbagai sektor, dari ekonomi hingga kemanusiaan.

Karena itu, pendekatan militer saja tidak cukup. Diplomasi harus menjadi prioritas, didukung peran aktif komunitas internasional. Negara-negara juga perlu memperkuat ketahanan ekonomi, terutama di sektor energi, agar tidak mudah terdampak konflik global.

Pada akhirnya, konflik Iran menegaskan bahwa dalam perang modern, yang tersisa bukan kemenangan, melainkan kerugian yang dibagi bersama.

Dyt

Penulis : Dyt

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Manuver Curi Start Jokowi Dinilai Jadi Bom Waktu yang Bisa Merusak Nama Prabowo
Jokowi Temui Penggiat Buruh Migran di Lampung, Bahas Perlindungan PMI
Politik Dua Kaki PDIP Bikin PKB Gelisah, Pengamat: Gerus Posisi Tawar Koalisi
DPW PKB Banten Susun Kepengurusan DPC 2026-2031, Tekankan Keterwakilan Daerah
Dua DPC PPP Tuntaskan Muscab, DPW Papua Barat Daya Siap Perkuat Struktur Partai
Dari Pengabdian Menuju Kemenangan, PKB Lebak Siap Bergerak Lebih Solid dan Dekat dengan Rakyat
Adde Rosi Sebut Keterwakilan Perempuan di DPR Tak Cukup Angka, Perlu Posisi Strategis
Golkar: E-Voting Perlu Kajian Mendalam, Infrastruktur dan Regulasi Matang
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 23:18 WIB

Manuver Curi Start Jokowi Dinilai Jadi Bom Waktu yang Bisa Merusak Nama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:02 WIB

Jokowi Temui Penggiat Buruh Migran di Lampung, Bahas Perlindungan PMI

Minggu, 21 Juni 2026 - 23:15 WIB

Politik Dua Kaki PDIP Bikin PKB Gelisah, Pengamat: Gerus Posisi Tawar Koalisi

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:57 WIB

DPW PKB Banten Susun Kepengurusan DPC 2026-2031, Tekankan Keterwakilan Daerah

Jumat, 12 Juni 2026 - 21:12 WIB

Dua DPC PPP Tuntaskan Muscab, DPW Papua Barat Daya Siap Perkuat Struktur Partai

Berita Terbaru

Sekjen Matahukum Mukshin Nasir

Hukum dan Kriminal

Kasus BTS 27 M, KPK Panggil Dito Kasus Haji, Matahukum: Jangan Lolos Lagi

Rabu, 1 Jul 2026 - 17:23 WIB