Pulang ke Rumah Sendiri: Gestur Politik Kebangsaan Andra Soni – PKB

Avatar photo

- Penulis

Minggu, 22 Februari 2026 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan foto : Oleh: M. Berryl Choliq Arrohman, Minggu (22/2/2026)

i

Keterangan foto : Oleh: M. Berryl Choliq Arrohman, Minggu (22/2/2026)

Ikuti kami di Google News

Terasmedia Serang – Pernyataan Gubernur Banten Andra Soni yang mengungkapkan merasa “seperti pulang ke rumah sendiri” dalam acara pengukuhan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Banten, patut diperhatikan secara mendalam. Kalimat tersebut menjadi pembeda dalam lanskap politik yang kerap diwarnai kecurigaan, keraguan, kompetisi tajam, dan polarisasi. Di tengah dinamika yang sering memisahkan, ungkapan itu justru terdengar sebagai sapaan hangat, akrab, dan merangkul.

Bisa jadi sebagian orang menganggapnya sebagai basa-basi politik semata. Namun, dalam tradisi komunikasi politik yang kental dengan simbol dan makna sosial, ungkapan tersebut bukan sekadar retorika kosong.

“Di balik kesederhanaannya terdapat pesan mendalam: politik tidak selalu harus menjadi arena pertarungan, melainkan bisa jadi persaudaraan untuk bekerja sama demi kepentingan publik,” ujar penulis.

Untuk mengukur kinerja elit politik, ruang politik tidak boleh hanya diukur dari kontestasi elektoral lima tahunan. Lebih penting adalah bagaimana mereka merajut relasi sosial-politik sehari-hari, apakah dengan saling menjatuhkan atau saling menguatkan untuk kesejahteraan bersama.

“Dengan menyebut kehadirannya di pelantikan DPW PKB Banten sebagai ‘pulang ke rumah sendiri’, Andra Soni menunjukkan gaya bahasa yang mengedepankan persatuan,” paparkan M. Berryl Choliq Arrohman.

Rumah sebagai simbol kenyamanan, penerimaan, dan kedekatan emosional menyampaikan pesan jelas: perbedaan partai politik bukan tembok yang memisahkan.

Demokrasi Banten, Sosio-Budaya, dan Bahasa Persatuan

Sebagai provinsi dengan heterogenitas masyarakat yang tinggi, sekaligus wilayah industri dan perkotaan yang berkembang pesat, Banten membutuhkan model demokrasi yang stabil dan tidak mudah terpengaruh polarisasi. Polarisasi hanya akan menghambat perkembangan sosial, memperbesar konflik, dan pada akhirnya merugikan rakyat.

“Ungkapan Andra Soni bisa dipahami sebagai contoh demokrasi yang lebih dewasa – tidak terjebak pada ego kelompok, melainkan menempatkan politik kebangsaan melalui kebersamaan sebagai dasar penting dalam tata kelola daerah,” tegas penulis.

Demokrasi yang matang tidak menolak perbedaan, justru menjadikannya dasar untuk hidup berdampingan dan saling menghubungkan satu sama lain.

PKB bukan hanya partai politik biasa. Lebih dalam lagi, partai ini memiliki kedekatan erat dengan sosio-budaya di Banten – terjalin dengan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), pesantren, dan budaya santri yang menjadi bagian penting dari identitas wilayah ini. Sosio-budaya tersebut memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat.

“Ketika Andra Soni mengungkapkan merasa pulang ke rumah sendiri di tengah keluarga besar PKB, pernyataan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap basis sosio-budaya yang menjadi bagian dari identitas Banten,” jelas M. Berryl Choliq Arrohman.

Penghormatan semacam ini diharapkan akan membawa dampak positif: menciptakan kondisi yang lebih kondusif, damai, dan mendukung pembangunan.

Hal ini menjadi penting karena pemimpin daerah yang kuat tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang dilegitimasi formal melalui hasil pemilihan kepala daerah (pilkada).

“Pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu membangun hubungan dan memiliki rasa kedekatan terhadap sosio-budaya masyarakatnya,” tambah penulis. Sehingga dalam politik lokal, kedekatan dengan sosio-budaya melalui penghormatan dan persatuan menjadi kunci stabilitas sosial-politik.

Demokrasi yang Sehat adalah Rumah Bersama

Pernyataan “seperti pulang ke rumah sendiri” bukan hanya persona politik pribadi Andra Soni. Lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa politik Banten sedang bergerak ke arah yang lebih dewasa.

“Jika ungkapan tersebut diwujudkan dalam kerja nyata – seperti sinergitas lintas partai, komunikasi harmonis antar elit politik, serta hubungan timbal balik positif dengan ulama dan tokoh masyarakat demi kebijakan yang berorientasi kesejahteraan – maka publik akan mendapatkan pelajaran berharga,” paparkan M. Berryl Choliq Arrohman.

Menurutnya, Demokrasi bukan hanya tentang proses elektoral lima tahunan untuk memilih pemimpin, melainkan juga tentang menciptakan stabilitas, pelayanan publik yang baik, dan pembangunan yang lebih cepat berkat stabilitas politik antar elit.

Sejatinya masyarakat Banten tidak menunggu drama politik antar elit atau pemimpin. Mereka menunggu bukti kerja nyata dari visi-misi yang diusung.

“Ketika politik daerah menjadi rumah bersama bagi semua pihak, pembangunan daerah akan memiliki fondasi yang paling kuat – yaitu persatuan,” pungkas M. Berryl Choliq Arrohman.

Oleh: M. Berryl Choliq Arrohman

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Jantung Bisnis Adalah Manusia: Mengapa Manajemen SDM Modern Membutuhkan Sentuhan Norma Agama
Ketika Perlindungan Hukum Berubah Menjadi Alasan Menghilangkan Hak Buruh
Mengapa Menteri Ketenagakerjaan Membatasi Penetapan Ulang Upah Minimum?
Saat Sengkuni Menjadi Tangan Asing, Menjadi Mata di Atas Mata
Sandiwara di Panggung, Damai di Meja Makan
Krisis Keteladanan: Bahasa Pemimpin “Ndasmu”, “Emang Gue Pikirin”, dan Konsekuensinya di Ruang Kelas
BUMN Ramah Wanita, Prioritaskan Pelayanan Bukan Keuntungan, Sediakan Passenger Gate Agar Penumpang Tak Terjatuh
Retaker Kedokteran dan Tanggung Jawab Negara Menjaga Masa Depan Calon Dokter
Berita ini 76 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 08:42 WIB

Jantung Bisnis Adalah Manusia: Mengapa Manajemen SDM Modern Membutuhkan Sentuhan Norma Agama

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:03 WIB

Ketika Perlindungan Hukum Berubah Menjadi Alasan Menghilangkan Hak Buruh

Kamis, 23 Juli 2026 - 21:28 WIB

Mengapa Menteri Ketenagakerjaan Membatasi Penetapan Ulang Upah Minimum?

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:04 WIB

Saat Sengkuni Menjadi Tangan Asing, Menjadi Mata di Atas Mata

Sabtu, 18 Juli 2026 - 10:59 WIB

Sandiwara di Panggung, Damai di Meja Makan

Berita Terbaru

Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso

Hukum dan Kriminal

IPW: Penanganan Perkara Notaris Lily Penuh Dugaan Pelanggaran Prosedur

Senin, 17 Agu 2026 - 13:10 WIB