Terasmedia.co Jakarta – Tulisan berjudul “Diagnosis Tanpa Periksa: Menyoal Krisis Metode dalam Analisis Gerakan Kontemporer” yang diterbitkan Konfederasi Pergerakan belakangan ini memicu perdebatan hangat di kalangan aktivis dan pengamat sosial. Tulisan itu mengingatkan bahwa gerakan sosial tak boleh sekadar membaca realitas melalui teori, kutipan tokoh, atau keyakinan ideologis yang sudah mapan realitas material harus diperiksa langsung, teori harus diuji, dan diagnosis tak boleh lahir dari asumsi belaka.
Namun, pandangan itu sendiri ternyata juga perlu “diperiksa”. Sebagai tanggapan, Rozi Hariansyah, aktivis sekaligus akademisi yang lama menekuni kajian gerakan rakyat, menyampaikan catatan kritisnya, Minggu (13/9/2026)
“Premis tulisan itu penting dan layak diterima. Tetapi ketika kita menggunakan pisau analisis yang sama untuk menilai tulisan tersebut, ada hal yang terabaikan — apa yang hilang ketika ‘gerakan’ dibaca dengan kerangka itu?” ujar Rozi.
Gerakan yang Mana, dan Siapa yang Bergerak?
Pertama-tama, kata Rozi, istilah “gerakan” yang dipakai terlalu umum. Gerakan buruh, agraria, mahasiswa, lingkungan, masyarakat adat, hingga gerakan digital semuanya memiliki basis sosial, sejarah, bentuk organisasi, dan pengalaman yang berbeda. Menyamakan semuanya dalam satu kategori justru melahirkan generalisasi baru yang berisiko.
Selain itu, material tidak bergerak sendiri. “Tanah yang dirampas tidak melakukan demonstrasi. Upah rendah tidak membuat spanduk. Eksploitasi tidak menyusun rapat. Manusialah yang mengubah kondisi material menjadi kesadaran, organisasi, dan tindakan,” tegasnya.
Seorang petani yang memperjuangkan lahan tidak harus memahami Materialisme Dialektika Historis. Buruh yang turun ke jalan tidak harus membaca Marx. Mereka bergerak karena merasakan ketidakadilan secara langsung. Tidak menguasai teori bukan berarti tidak memiliki kesadaran. Di sinilah peran Antonio Gramsci menjadi penting: pengalaman rakyat itu sendiri adalah sumber pengetahuan, bukan sekadar objek yang diperiksa. Hubungannya adalah proses timbal balik pengalaman, kesadaran, organisasi, teori, dan praktik saling menguji satu sama lain.
Jangan Serampangan Mengadili Gerakan
Rozy juga menyoroti kecenderungan mengkritik gerakan sosial dengan cap “selalu gagal, selalu berkhianat, selalu salah metode”. Menurutnya, kritik tetap diperlukan, tetapi satu-dua orang yang berkhianat tidak bisa menjadi cermin bagi ribuan kader yang bertahun-tahun membangun basis.
“Ada orang yang menghabiskan masa mudanya di jalan, kehilangan kesempatan kerja, hidup dalam ketidakpastian, dan tetap bergerak tanpa kepastian kemenangan. Kritik terhadap metode tidak boleh menghapus pengorbanan manusia yang membuat gerakan itu hidup,” katanya.
Namun ia juga tidak menutup mata terhadap kelemahan. “Mengharap tokoh selalu suci, selalu benar, itu juga kenaifan. Politik yang dewasa bukan berharap manusia selalu baik, tetapi membangun mekanisme agar ketidaksempurnaan manusia tidak menghancurkan tujuan bersama. Jangan hanya berharap pemimpin tidak berkhianat bangun organisasi yang tetap berjalan meskipun ia berkhianat.”
Saat Aktivis Menua, Gerakan Harus Tetap Hidup
Di akhir catatannya, Rozi mengajak merenungkan hal yang jarang dibicarakan: apa yang terjadi ketika aktivis mulai menua? Mereka yang hari ini membangun basis suatu saat akan memiliki keluarga, tanggung jawab, atau mungkin meninggalkan aktivisme. Maka tantangan terbesar gerakan bukan hanya memenangkan perjuangan hari ini, tetapi bagaimana mereproduksi pengetahuan, kader, dan kepemimpinan untuk generasi mendatang.
“Gerakan yang sehat tidak bergantung pada kesucian satu individu. Ia membangun kapasitas kolektif,” ujarnya.
“Maka kita menerima ajakan untuk memeriksa kenyataan, tetapi pemeriksaan itu harus diperluas. Periksa struktur, tetapi periksa pula subjek. Periksa kegagalan, tetapi jangan hapus pengorbanan. Periksa strategi, tetapi jangan abaikan kaderisasi.”
Pertanyaan akhirnya bukan sekadar “Apakah gerakan telah memeriksa kenyataan?”, melainkan juga: “Siapa yang melakukan pemeriksaan itu, dari posisi apa, dan siapa yang tidak terlihat?”
Mungkin itulah yang hilang dari diagnosis: manusia yang menghidupkan realitas sebagai subjek sejarah. Dan dalam politik, yang kita butuhkan bukan manusia yang suci melainkan organisasi yang cukup dewasa untuk bekerja dengan manusia yang tidak pernah sepenuhnya suci.











